Breaking News
Loading...
Wednesday, December 19, 2012


Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menghadiri sekaligus menjadi pembicara dalam acara bulanan kantor pajak wajib pajak besar Setu. Dalam acara itu mengambil tema 'Karakter Jujur, Inovatif, Tanggap, Unggul (JITU)'.

Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Jokowi itu mengimbau agar bisa membuat gebrakan mengubah dan memberikan inovasi dari hal-hal yang bersifat monoton.

"Memang kita harus berubah dan memberikan inovasi hal-hal yang bersifat monoton. Semuanya harus mulai diubah," kata Jokowi di Aula Kanwil DJP WP Besar Jalan Merdeka Timur, Jakarta, Selasa (18/12/2012).

Jokowi yang menggunakan setelan batik panjang berwarna cokelat itu memaparkan berbagai contoh segala sesuatu yang harus diubah. Misalnya saja, menurutnya, pola pemasangan spanduk harus diubah dan pemasangan tagline yang tidak panjang-panjang.

"Pasang yang pendek-pendek saja. Misalnya: Bayar Pajak, Kamu Akan Jadi Kaya. Wah, orang pasti mau baca itu. Jadi sudah harus berganti," kata Jokowi.

Selain itu, ia juga menyarankan yang juga harus diganti adalah pola pemasangan foto-foto di spanduk. Ia memberikan contoh apabila ada promosi suatu daerah, jangan sampai foto kepala daerahnya yang muncul di spanduk itu.

"Jangan sampai wajah saya dipasang di dalam spanduk dan baliho, saya tidak mau. Kalau visit sebuah daerah itu harusnya yg dipasang tari, lokasi wisata, bukan yang ada malah wajah kepala daerahnya. Ini mau mengunjungi Pak Gubernur-nya atau daerahnya. Itu keliru," kata Jokowi seraya seluruh pengunjung yang sebagian besar pegawai pajak tertawa terbahak-bahak dan bertepuk tangan.

Begitu pula dengan informasi yang berhubungan dengan wajib pajak, ia menyarankan agar di dalam spanduk atau pamflet informasi pajak, untuk tidak memasang foto kepala pajaknya.

"Pajak juga sama, jangan sampai di spanduk, fotonya kepala pajak. Nanti malah enggak ada yang bayar pajak. Ha.. ha.. ha... ha...," kata Jokowi sambil tertawa.

Oleh karena itu, Jokowi mengajak untuk memperbaharui dan mengganti segala sesuatu yang hal yang masih bersifat monoton dan harus berani keluar dari kebiasaan yang ada, namun masih dalam batasan yang ada.

"Masa sih kita masih seperti ini, masih monoton dan tidak berani keluar dari frame, pakem. Kenapa kita enggak berani? Saya selalu mengajak siapapun berani keluar pakem, tapi tetap dengan batas-batasan," ujarnya.


sumber | iniunic.blogspot.com | http://www.kaskus.co.id/thread/50cfebc420d719e52c000037

0 comments:

Post a Comment